
KOKESHI
September 15, 2008
Ada yang tahu arti kokeshi? Kokeshi adalah boneka ramping dari Jepang yang menyerupai alat pemukul bedug atau kentongan.
Kokeshi ternyata punya riwayat sejarah yang cukup panjang. Boneka unik itu sudah dibuat sejak pertengahan zaman Edo (1603-1867). Boneka itu ternyata bisa jadi media ekspresi seni bagi para perupa.
Bentuknya memang hanya kayu lonjong yang dipahat menyerupai bentuk dasar manusia. Ada badan dan kepala mirip manusia. Dengan penambahan lukisan, ekspresi boneka menjadi semakin jelas.
Pameran kokeshi di The Japan Foundation Jakarta sejak Senin (12/3) hingga 26 Maret memajang berbagai jenis kokeshi dalam berbagai ekspresi. Boneka-boneka itu mewakili karakter kokeshi dari seluruh wilayah penghasil kokeshi di Jepang.
Di Indonesia bisa jadi kokeshi belum begitu banyak dikenal. Asisten Khusus dari The Japan Foundation, Kumagai Hiroaki, mengutarakan hanya mereka yang pernah ke Jepang atau mendapat oleh-oleh kokeshi dari mereka yang ke Jepang yang tau persis keunikan kokeshi.
“Kokeshi merupakan media untuk berekspresi. Saat ini kokeshi sudah semakin dikenal masyarakat selain orang Jepang,” ujarnya.
Di Jepang sendiri awalnya pembuatan kokeshi hanya dikenal di wilayah Tohoku-ujung utara Pulau Honshu. Sampai saat ini di daerah itu kokeshi masih dibuat dengan teknik tradisional yang diturunkan oleh para perajin dari generasi ke generasi.
Kepala
Kokeshi tradisional hanya terdiri dari bagian kepala dan bagian tubuh saja. Kedua bagian itu dibentuk dengan menggunakan mesin bubut tradisional.
Setelah Perang Dunia II selesai, hampir semua daerah mengembangkan kokeshi sebagai mainan dan suvenir. Akibatnya kokeshi yang tadinya hanya memiliki desain tubuh dan kepala, kini sudah mulai mengalami perkembangan. Kayu tidak lagi dibubut untuk membentuk badan dan kepala, tetapi bisa badan saja atau kepala saja. Selanjutnya identifikasi anggota tubuh itu menggunakan cat.
Belakangan, banyak perupa Jepang yang menggunakan kokeshi untuk menyampaikan suatu tema. Kokeshi jenis ini lebih dikenal dengan sebutan kokeshi kreatif atau kokeshi sosaku atau kokeshi kontemporer. Jenis inilah yang kemudian dianggap memiliki nilai seni tinggi dan banyak dipamerkan di berbagai tempat di luar Jepang.
Pembuatan kokeshi memang hanya menggunakan mesin bubut saja. Tapi jangan lupa, untuk membuat
bentuk-bentuk khusus atau bentuk kontemporer butuh keahlian dan pengalaman matang. Ekspresi perupa saat membuat kokeshi terpancar dari hasil karyanya.
Penambahan cat untuk mengekspresikan wajah pun digunakan perupa dengan sangat hati-hati. Cat yang digunakan biasanya menggunakan bahan alami. Beberapa di antaranya ialah, tanah, lumpur, atau tumbuh-tumbuhan jenis tertentu yang diproses sedemikian rupa sehingga menghasilkan warna tertentu.
Warna-warna yang digunakan untuk melukis kokeshi adalah warna-warna yang khas Jepang dan jarang digunakan di daerah lain.
Sebenarnya selain bentuk kokeshi dengan bentuk orang, ada pula mainan lain anak-anak Jepang yang berbentuk bola. Jenis ini biasanya disebut temari. Asal muasal temari ternyata tidak lepas dari sejarah permainan sepakbola yang pada abad pertengahan hanya dimainkan anak laki-laki Jepang. Anak wanita yang tidak boleh mengenal apalagi bermain sepakbola, kemudian bisa membuat bola dengan menambahkan hiasan rajutan di sekeliling bola. Belakangan bola dengan hiasan itu ternyata sangat digemari anak-anak. Bola dengan hiasan unik itu seolah tengah mengungkapkan ekspresi para pembuatnya.
Dalam pameran di The Japan Foundation tidak hanya kokeshi tradisional, tapi juga kokeshi kreatif, dan temari juga ditampilkan. Jepang lagi-lagi tengah menunjukkan, keunggulan ekonomi dan kemajuan teknologinya tidak menyebabkan mereka lupa bagian tradisinya. Jangan-jangan daya ingat pada tradisi itu yang menyebabkan mereka maju.
SUARA PEMBARUAN DAILY

ow,kawaii..